PANCASILA: PILAR BANGSA ATAU DASAR NEGARA?

Standar

Pancasila : Pilar Bangsa Atau Dasar Negara ?

oleh : Drs. Soleman Montori, M.Pd (Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Manado)

Pancasila telah melewati tantangan waktu yang panjang dalam tiga orde yang berbeda. Pada rezim orla dan orba, Pancasila telah diinvestasikan sebagai akhlak (character) atau moral bangsa dan sebagai dasar negara; namun pada era reformasi, Pancasila berubah dari dasar negara sebagai pilar bangsa. Perubahan ini membuat sebagian orang harus mengingat, sebagian lainnya harus mengerti, dan yang lainnya tidak habis mengerti.

Pada awal reformasi tahun 1999 sebagian anak bangsa Indonesia cepat tumbuh mapan dengan sikap intoleransi, kekerasan  dan ketidakadilan. Pancasila sebagai dasar negara dan moral bangsa dianggap sebagai penyebab utama langgengnya kekuasaan dan ketidakadilan dalam segala bidang dan aspek kehidupan. Sebagian partai yang dibentuk pada awal reformasi menolak Pancasila sebagai asasnya. Demikian halnya di bidang pendidikan, Pancasila pada tahun 2006 dikeluarkan dari kurikulum SD, SMP, SMA/SMK atau yang sederajat.

Benarkah bangsa  Indonesia tanpa Pancasila sebagai dasar negara menjadi lebih makmur, aman dan damai? Ternyata tidak! Justru sejarah bangsa Indonesia dibelokkan ke sebuah persimpangan; dan dari persimpangan itu muncul orang-orang yang penuh euphoria dan  ecstasy mengeksploitasi keluhan-keluhan daripada memecahkan masalah; di mana-mana suara cacian dan hinaan begitu mudah diucapkan tapi anehnya pelakunya menyebut diri tak bernoda; suara lantang menyalahkan orang lain atas kebodohan dan kesulitan diri sendiri diekspos melalui media dan menggema di seluruh jagad; sementara yang lainnya berdiam diri dan menghindar dari tanggung jawab atas tindakan diri sendiri yang keliru; singkatnya, bangsa Indonesia ketika  Pancasila sebagai sebagai dasar negara tidak dilaksanakan secara murni dan konsekuen telah menjadi lahan subur bertumbuhnya sikap intoleran, terorisme dan korupsi. Bahkan pada sejumlah daerah yang memiliki sikap hidup eksklusif dan tertutup begitu mudah menuding dan menyematkan kesalahan pada orang lain hanya karena kebencian terhadap suku, budaya  dan agama yang berbeda; implikasinya telah membuat harapan sebagian anak bangsa berganti sinisme dan putus asa.

Penolakan terhadap nilai Pancasila yang begitu kuat pada awal reformasi telah melahirkan kebebasan yang  tidak terjaga dan kreativitas  yang  tidak bermoral, misalnya bom yang dirakit di Solo bisa meledak di seluruh wilayah NKRI. Ladang-ladang ganja di Aceh menjadi heroin di seluruh wilayah nusantara. Sekolah teroris di Afganistan, Philipina, Aceh dan Poso melahirkan teror bagi seluruh masyarakat Indonesia. Kemiskinan dijadikan alasan pembenar untuk melakukan kekerasan dan menyalahkan. Arus-arus bahaya seperti itu mengalir lebih cepat daripada usaha kita untuk mengendalikannya.

Untuk mengatasinya, bangsa Indonesia tidak boleh terpecah; termasuk tidak boleh terpecah dalam menanamkan nilai Pancasila.  Sebab dalam sejarah tidak ada satu bangsa, sekalipun besar dan kuat, mampu mengalahkan ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan secara sendirian. Masa depan bangsa Indonesia yang damai dan makmur dicapai jika kita mengakui bahwa semua memiliki hak untuk hidup, dan semua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan rasa aman dan damai.

Surga menolak orang yang mendistori iman. Orang-orang yang mencoba menggantikan nilai-nilai Pancasila dengan terus mempromosikan konflik, menawarkan kebencian dan kehancuran, adalah agen iblis; mereka harus kita berikan pencerahan bahwa masa depan bangsa Indonesia bukan milik ketakutan, juga bukan milik orang yang merusak, tapi milik orang-orang yang membangun kehidupan.

Tanpa Pancasila, sikap intoleran dan tidak saling menghargai  akan berdiri kokoh sebagai tembok pemisah yang mencerai-beraikan dan melupakan nasib bersama sebagai bangsa yang BhinnekA Tunggal IKa (BATIK). Merupakan bahaya terbesar bagi bangsa Indonesia jika kita membiarkan tembok pemisah antara satu dengan yang lainnya, misalnya tembok antara yang kaya dan miskin, tembok antara  ras dan suku, tembok antara penduduk pribumi dan non pribumi, tembok orang Islam, Kristen dan agama lainnya, semuanya harus kita runtuhkan dengan nilai Pancasila sebagai moral bangsa.

Indonesia yang hidup berdasarkan nilai-nilai Pancasila adalah tempat bagi semua orang untuk meraih apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan. Inilah janji the founding fathers, dan ketika janji itu berada dalam bahaya, kita harus memiliki keberanian untuk menjaganya agar tetap hidup. Tugas kita bersama adalah membangun kepercayaan generasi yang  tidak pernah berpeluh dalam proses panjang sejarah bangsa Indonesia, tapi hanya tahu mengeluh, agar mereka memiliki tanggung jawab menjaga dan mempertahan nilai-nilai Pancasila demi  masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pancasila sebagai dasar negara adalah sebuah janji yang di dalamnya memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang kita kehendaki, sekaligus janji yang menuntut  kita  agar memiliki kewajiban untuk memperlakukan satu sama lain dengan penuh harga diri dan rasa hormat. Pancasila adalah moral bangsa Indonesia, yang di dalamnya berisi janji untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan melakukan apa yang orang lain tidak dapat lakukan untuk dirinya sendiri, bukan janji yang memperkuat dan mendorong satu kelompok atau satu golongan untuk membenci dan menindas yang lain.

Pancasila adalah kekuatan moral dan intelektual bangsa Indonesia. Lihat apa yang terjadi di lembaga pendidikan/sekolah ketika Pancasila dikeluarkan dari kurikulum SD, SMP, SMA/SMK atau yang sederajat? Sebagian siswa menambah waktu belajar merakit bom, sebagian lainnya menjadi “pengantin” bom bunuh diri, dan sebagian lainnya berdemonstrasi atas nama organisasi ini itu dan berbicara dengan suara keras di jalanan dan di halaman gedung-gedung. Mereka berperilaku demikian karena tidak lagi mengenal dan sengaja tidak diperkenalkan dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang terdapat di dalam Pancasila sebagai moral bangsa.

Pancasila bukan partai. Pancasila adalah falsafah negara Republik Indonesia; dasar negara, moral bangsa Indonesia, dan merupakan idiologi terbuka. Penulis tidak melihat partai yang menolak Pancasila sebagai asasnya “mendapat keuntungan dan memberi keuntungan” bagi bangsa Indonesia, justru yang terjadi adalah lebih banyak berharap dan terus berharap, dan lebih banyak mengambil daripada memberi. Sebagian dari mereka menganggap Pancasila bukan tentang mereka, tetapi tentang orang lain. Sikap eksklusif dan tertutup seperti ini tidak dapat membuat bangsa Indonesia bertumbuh besar. Kebesaran bangsa Indonesia terletak pada semangat untuk lepas dari perbedaan-perbedaan, hidup berdampingan secara damai, dan memajukan kepentingan bangsa dengan berpikir dan bertindak bersama-sama.

Semangat untuk bersatu merupakan warisan terbesar dan berharga bagi bangsa Indonesia dibanding warisan harta yang melimpah. Kata-kata kemarahan dan perselisihan, sikap intoleran dan kebencian terhadap sesama, kata-kata yang mengancam dan menekan, yang mengakibatkan sebagian orang menyerah pada ketakutan dan frustasi, di era reformasi ini banyak dipraktikan dan dipertontonkan kepada masyarakat; semuanya adalah kata-kata yang melemahkan semangat untuk bersatu dan merupakan kata-kata yang tidak bermoral yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila sebagai moral bangsa.

Pancasila sebagai moral bangsa telah teruji dalam tiga era, dan sampai kini tetap sakti, dan membuat kita adalah kita, dan akan selalu kita, bangsa Indonesia.  Bangsa Indonesia tidak hanya sekumpulan individu dan warna-warni partai, tetapi bangsa yang bertumbuh besar karena semangat ingin bersatu. Walaupun dalam semangat mungkin bersaing, tapi kita tetap dalam bingkai NKRI yang bermoral Pancasila, karena kita bukan tawanan nasib, tetapi memiliki nasib bersama.

Sudah 6 (enam) warga negara Indonesia yang diambil sumpahnya sebagai presiden. Kata-kata sumpah jabatan ada yang diucapkan pada masa makmur dan damai, dan yang lainnya diambil di tengah-tengah situasi gawat dan tidak kondusif. Sebagian presiden melaksanakan tugas berdasarkan TAP MPR dan yang lainnya berdasarkan visi mereka. Sebagian dari mereka ada yang pancasilais, yang lainnya sangat pancasilais, beberapa bersikap abu-abu, dan yang lainnya melahirkan dikotomi antara kelompok agamais dan nasionalis; dan yang terakhir saat ini, Pancasila sebagai dasar negara dipopulerkan dan disosialisasikan sebagai pilar bangsa.

Di era reformasi ini, ketika Pancasila dari dasar negara diubah menjadi pilar bangsa telah mengakibatkan banyak air mata diteteskan, banyak darah ditumpahkan, dan terlalu banyak nyawa melayang; pelakunya adalah orang-orang yang melupakan nasib bersama bahwa semua harus memiliki tanggung jawab untuk berjuang menciptakan bangsa Indonesia yang ramah dan memberi teladan kepada anak-anak sebagai generasi penerus untuk tumbuh tanpa ketakutan.

Pancasila sebagai dasar negara seharusnya telah berakar kuat sebagai moral bangsa, dan telah teruji kesaktiannya untuk mempersatukan bangsa Indonesia, namun sampai kini masih ada orang-orang yang menolak Pancasila dan yang lainnya mendefinisikan Pancasila berdasarkan kepentingannya. Sejarah mencatat bahwa ketika bangsa Indonesia tidak melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekuen berakibat pada tidak tegaknya hukum, penyelenggaraan keadilan tidak sama untuk setiap orang, pemerintahan tidak transparan, kebebasan beragama dibelenggu; singkatnya hak asasi manusia dikekang.

Mempercayai penegakan hukum, melaksanakan penyelenggaraan keadilan yang sama untuk setiap orang, pemerintahan yang transparan, dan kebebasan beragama bukan sekedar ide-ide idiologi Pancasila, itu adalah hak asasi manusia dan kita harus mendukungnya, karena pemerintahan yang melindungi hak-hak ini akan lebih stabil, sukses dan aman.

Idiologi setiap bangsa berakar pada budaya orang-orangnya. Demikian halnya dengan Pancasila sebagai moral bangsa digali dari budaya, tradisi, dan adat istiadat bangsa Indonesia. Nilai-nilai inilah yang membuat bangsa Indonesia besar dan bisa bersatu walaupun berbeda. Namun sebagian dari kita masih ada yang waspada dan ragu terhadap masa depan dengan dasar negara Pancasila. Beberapa orang masih berpikir bahwa Pancasila melanggengkan kekuasaan. Beberapa orang lainnya berpikir bahwa Pancasila bertentangan dengan ajaran agama tertentu.

Semua ajaran agama melarang orang membunuh, tapi ketika ada orang yang membunuh, apakah ajaran agama salah, tentu tidak! Contoh lainnya jika kapal dan pesawat udara mengalami kecelakaan, apakah kapal dan pesawat udara harus disalahkan, tentu tidak! Kesalahan ada pada nakhoda (skipper) dan pilot. Sama halnya dengan Pancasila yang berisi lima moral bangsa Indonesia. Misalnya di dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab;  jika suatu waktu ada orang yang tidak adil dan tidak beradab, apakah Pancasila yang salah, tentu tidak!; yang salah adalah orang yang melakukan ketidakadilan dan kebiadaban itu.

Pancasila bukan agama, tapi pada sila-silanya mengandung pesan moral yang mencerahkan seluruh umat beragama. Pancasila tidak merugikan dan tidak menguntungkan agama tertentu, tetapi menjamin dan memberi kebebasan pada seluruh umat beragama menjalankan ibadah berdasarkan keyakinan pikiran, hati, dan jiwa. Pancasila tidak mencegah umat beragama untuk mempratikan agama sesuai kepercayaan masing-masing pemeluknya. Si Anu menyembah tiang listrik tidak perlu dipermasalahkan, itu haknya; tapi ketika si Anu merusak tiang listrik, itu sudah mengganggu kepentingan umum dan harus diserahkan ke proses hukum, bukan main hakim sendiri.

Pancasila adalah idiologi terbuka yang memberi ruang kepada siapa pun agar berpegang teguh di dalam hati sesuai dengan agama yang diyakini untuk membentuk ikatan persaudaraan, bukan untuk memisahkan; keberagaman suku  yang kaya akan adat-istiadat dan budayanya yang beragam adalah kekuatan, bukan kelemahan yang menghancurkan. Di dalam Pancasila, kita diakui berasal dari banyak suku, agama, ras dan golongan; dan berbagi masa depan bersama yang ditempa oleh perbuatan, bukan dengan kata yang sia-sia dan teriakan yang hampa; dengan kata lain, bangsa Indonesia di dalam Pancasila adalah dari banyak menjadi satu, BhinnekA Tunggal IKa (BATIK). Jadi, bangsa Indonesia tetap satu walaupun terpisah, tapi bukan pemisahan terpisah.

Bangsa Indonesia yang besar dan kuat bukan secara terus-menerus mengamandemen UUD 1945 dan melemahkan Pancasila, juga bukan melalui kekuatan otot dan gertakan suara penuh emosi, tapi melalui institusi yang kuat dan tata kelola pemerintahan yang baik. Ciri negara yang kuat dan maju bukan karena sistemnya, tapi karena peradabannya. Jika peradabannya baik, otomatis sistemnya akan baik. Analog dengan kehidupan bangsa Indonesia yang bermoral Pancasila; jika Pancasila dilaksanakan secara murni dan konsekuen, otomatis kehidupan bangsa Indonesia akan baik dan stabil.

Pergumulan bangsa Indonesia sejak orla, orba dan sampai kini di era reformasi selalu mengalami pasang surut. Tak henti-hentinya Pancasila diuji dan selalu diperhadapkan dengan keadaan sebagian masyarakat yang egois dan tidak bertenggang rasa. Dari 200 juta lebih penduduk Indonesia saat ini masih langka atau mungkin tidak ada orang yang mampu mengembangkan dirinya untuk membangun kesadaran orang lain; dan memiliki wawasan seluas kesadaran seribu orang, atau membiasakan diri untuk melihat apa yang dipikirkan untuk kehidupan dan merasakan penderitaan yang dialami orang lain.

Semua manusia memiliki kedudukan yang sama, tidak ada yang di atas atau di bawah manusia yang lain. Nilai manusia tidak dapat diganti dengan uang, karena nilai manusia = manusia. Tanpa Pancasila sebagai landasan moral, bangsa Indonesia akan kehilangan banyak hal tentang nilai-nilai kemanusiaan; kehilangan peluang tentang hal yang baik dan kehilangan kompas moral.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s